Sabtu, 14 Mei 2011

laporan praktikum analisis kadar abu

ANALISA HASIL PERTANIAN
KADAR ABU TOTAL

A.TUJUAN
       Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan terampil menganalisis kadar abu bahan hasil perkebunan dengan metode thermografimetri.

B.DASAR TEORI
        Abu adalah zat organic sisa hasil pembakaran suatu bahan organic. Kandungan abu dan komposisinya tergantung pada macan bahan dan cara pengabuanya. Beberapa contoh kadar air abu dalam beberapa contoh kadar abu dalam beberapa bahan dapat di lihat pada table brikut ini:
Kadar abu ada hubunganya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan terdapat dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organic dan garam anorganik. Yang termasuk dalam garam organic misalnya garam-garam asam mallat, oksalat, asetat, pektat. Sedngkan garam anorganik antara lain dalam bentuk garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat. Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral berbentuk sebagai senyawaan komplek yang bersifat organis. Apabila akan ditentukan jumlah mineralnya dalambentuk aslinya sangatlah sulit,oleh karena itu biasanya dilakukan dengan menentukan sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut,yang dikenal dengan pengabuan.(sudarmadji.2003).
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan sebagai berikut:
  1. Untuk menentukan baik tidaknya suatu proses penggolahan
  2. Untuk mengetahui jenis bahan yang digunakan
  3. Untuk memperkirakann kandungan buah yang digunakan untuk membuat jelly. Kandungan abu juga dapat dipakai untuk menentukan atau membedakan fruit uinegar (asli) atau sintesis
  4. Sebagai parameter nilai bahan pada makanan. Adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan adanya pasir atau kotoran lain.( Irawati.2008 ).
     Penentuan kadar abu adalah mengoksidasikan senyawa organik pada suhu yang tinggi,yaitu sekitar 500-600°C dan melakukan penimbangan zat yang tinggal setelah proses pembakaran tersebut. Lama pengabuan tiap bahan berbeda–beda dan berkisar antara 2-8 jam. Pengabuan dilakukan pada alat pengabuan yaitu tanur yang dapat diatur suhunya. Pengabuan diangap selesai apa bila diperoleh sisa pembakaran yang umumnya bewarna putih abu-abu dan beratnya konstan dengan selang waktu 30 menit. Penimbangan terhadap bahan dilakukan dalam keadan dingin,untuk itu krus yang berisi abu diambil dari dalam tanur harus lebih dahulu dimasukan ke dalam oven bersuhu 105°C agar suhunya turun menyesuaikan degan suhu didalam oven,barulah dimasukkan kedalam desikator sampai dingin,barulah abunya dapat ditimbang hingga hasil timbangannya konstan.( Anonim.2010 ).

C.BAHAN DAN ALAT
   1.Bahan                                      2.Alat
      a) Biji lada                                  a) Muffle furnace
      b) Pala                                       b) Hot plate
      c) Cengkeh                                c) Krus proselin
      d) Pk                                          d) Desikator
      e) Oven


D.METODE KERJA
    a) Persiapan awal
  1. Ditimbang bahan contoh yang telah dihaluskan sebanyak 1-2 gr dalam kurs porslein yang telah diketahui beratnya.
  2. Dipanaskan bahan tersebut diatas hot olate (dalam ruang asam) untuk meminimalkan asap/jelaga hitam yang muncul pada saat proses pengabuan.
  3. Dimasukan bahan kedalam furnance (tanur) sesuai dengan prosedur kerja penoperasian alat.
    b) Petunjuk penggunaan furnance (Thermolyne FB.1410M.26)
  1. Dihubungkan kabel power kesumber litrik.
  2. Ditekan tombol power ke posisi ON, maka tampilan digital yang menyatakan temperature akan menyala.
  3. Diatur suhu pengabuan (550’C) dengan cara menekan tombol “Push To Set Temperature” dan secara bersamaan putar tombol “Temperature” hingga tercapai tempertaur yang ditentukan.
  4. Dilepaskan tekanan pada tombol “Push To Set Temperature”.
  5. Dimasukan bahan kedalam furnance dengan lama proses pengabuan 3 jam.
  6. Setelah lama proses pengabuan tercpai, diatur suhu furnance menjadi 150’C.
  7. Ditunggu hingga suhu mencpai 150’C, selanjutnya dimasukan bahan kedlam desikator dan ditimbang.
  8. Dihitung kadar abu total bahan (%) berdasarkan berat kering bahan.

E.HASIL PENGAMATAN
   No Sampel Berat krus (g) Berat bahan (g) Berat kering (g) Berat abu (g) Kadar air (%)
   1. Lada         20,79 0,5 0,4589 0,0016 0,34
   2. Pala          20,08 0,5 0,4559 0,0096 2,11
   3. Cengkeh   14,66 0,5 0,3958 0,0336 8,49
   4. Pk             21,93 0,5 0,4292 0,026 6,06

   PERHITUNGAN
   Berat kering = 100 x berat sampel / 100 + kadar air (db)
                      = 100 x 0,5 / 100 + 26,64
                      = 50,12 / 126,64  = 0,3958
   Kadar abu = berat abu / berat kering x 100%
                    = 0,0336 / 0,3958 x 100%
                    = 8,48 %

F. PEMBAHASAN
        Pada praktikum kali ini,proses pengabuan dilakukan dengan menggunakan Muffle Furnace (tanur) yang memijarkan sampel pada suhu mencapai 550°C penggunaan tanur karena suhunya dapat diatur sesuai dengan suhu yang telah ditentukan untuk proses pengabuan. Sampel yang telah halus ditimbang 1-2 gram,sebelum dimasukkan kedalam tanur terlebih dahulu sampel dipanaskan diatas hot plate tujuannya agar dapat meminimalkan asap atau jelaga yang muncul pada saat pengabuan. Untuk kali ini analisis kadar abu total menggunakan bahan atau sampel sebagai berikut : lada,pala,,cengkeh,dan pk. Setelah tercapai pengabuan yang dapat ditunjukkan pada warna yang dihasilkan sampel setelah diarangkan,pada pengabuan sampel telah menjadi abu berwarna putih abu-abu. Berat abu yang didapat pada sampel cengkeh yakni seberat 0,0336 (g), jauh sekali penurunan berat yang terjadi karena berat sampel awal 0,5 gram,berarti selama proses pemanasan awal sampai pada proses pengabuan telah terjadi penguapan air dan zat-zat yang terdapat pada sampel,sehingga yang tersisa hanyalah sisa dari hasil pembakaran yang sempurna yakni abu.
      Pada sampel cengkeh didapat kadar abu terbesar dibandingkan sampel yang lain yakni sebesar 8,49% yang dihitung berdasarkan berat kering,besarnya kadar abu yang didapat dalam praktikum kali ini, mungkin disebabkan oleh suhu ruang ataupun adanya ppasir dan kotoran yang terdapat dalam sampel. Untuk itu dilakukan pengujian kadar abu totol yang memiliki berbagai macam tujuan yakni : menentukan baik tidaknya suatu proses pengolahan,mengetahui jenis bahan yang digunakan juga sebagai parameter nilai bahan makanan dan mengetahui adanya abu yang tidak larut dalamasam yang cukup tinggii menunjukkan adanya pasir atau kotoran lain yang terdapat dalam suatu bahan.

G. KESIMPULAN
     Setelah melakukan praktikum analisis kadar abu dapat disimpulkan bahwa :
  1. Abu adalah zat orgganik dari sisa hhasil pembakaran suatu bahan organic
  2. Proses untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan
  3. Proses pengabuan dapat dilakukan dengan menggunakan tanur yang memijarkan sampel pada suhu mencapai 500-600°C

DAFTAR PUSTAKA

         Anonim.2010.LAPORAN PENENTUAN KADAR ABU.http://scribd.com. Diakses 31 oktober 2010
         Irawati.2008.MODUL PENGUJIAN MUTU 1.Diploma IV PDPPTK VEDCA.Cianjur
         Sudarmadji.dkk.2003.Prosedur Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian.Liberti.Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar